Pakai batu bata merah, lebih tahan gempa bumi

Banyak rumah warga papua yang hancur akibat gempa

Batu bata sudah lama jadi salah satu bahan pokok dalam mendirikan bangunan. Namun, bahan bangunan dari campuran air dan tanah liat ini masih rentan retak jika terkena goncangan keras, meski dilekatkan dengan semen. Melihat kelemahan batu bata biasa yang mudah retak, siswa Sekolah Menengah Umum (SMU) Negeri 5 Kota Madiun berhasil melakukan penelitian untuk menemukan formula batu bata yang lebih kuat.

Para remaja ini berhasil menemukan komposisi bahan baku batu bata yang lebih baik sehingga terbukti memiliki daya tahan dan daya lekat lebih kuat dibanding batu bata yang selama ini dibuat perajin tradisional. Bahan campurannya sederhana, murah, dan mudah didapatkan.

“Tanah liat dicampur dengan karbon aktif yang terkandung dalam abu asap pembakaran tebu,” ujar bekas siswa SMU Negeri 5 Kota Madiun, Nina Milasari, saat dihubungi Tempo, Sabtu, 28 Juli 2012. Setelah lulus SMU tahun 2011, Nina kini kuliah di Universitas Brawijaya, Malang.

Karbon bekas pembakaran tebu itu merupakan limbah pabrik gula di Madiun. Abu asap (dust) limbah pabrik gula itu mengandung silikat yang tinggi. Silikat adalah senyawa yang mengandung satu anion dengan satu atau lebih atom silikon pusat yang dikelilingi ligan elektronegatif. “Silikat atau silikondioksida (SiO2) memiliki daya rekat yang tinggi dan biasa digunakan untuk bahan baku pembuatan semen atau konstruksi lainnya,” katanya.

Nina menambahkan, awalnya dirinya dan teman-temannya memanfaatkan karbon aktif itu untuk briket yang bisa dijadikan bahan pembakaran. “Setelah tahu mengandung silikat yang tinggi, kami mencoba memanfaatkannya untuk campuran batu bata,” ucapnya.

Batu bata yang bahan bakunya dicampur dengan silikat menjadikan batu bata lebih ringan sehingga lebih tahan getaran atau gempa. “Batu bata dengan campuran karbon ini cocok digunakan untuk bangunan di daerah rawan gempa,” tuturnya.

Setelah dilakukan beberapa kali eksperimen, diperoleh volume ideal komposisi campuran karbon pada batu bata, yakni 10 persen dengan kuat daya tekan 28,25 kilogram per sentimeter persegi. Kuat daya tekan ini sudah melebihi standar nasional Indonesia (SNI) sebesar 21 kilogram per sentimeter persegi.

Eksperimen juga dilakukan dengan komposisi karbon yang lebih sedikit, yakni 5 persen. Dengan kadar karbon 5 persen, batu bata memiliki daya tekan lebih kuat, yakni 30,67 kilogram per sentimeter persegi. Komposisi karbon yang lebih banyak, yakni 15 persen, juga diuji, dan hasilnya batu bata memiliki kuat daya tekan 21,28 kilogram per sentimeter persegi. Namun, komposisi karbon 5 persen dan 15 persen itu tidak direkomendasikan. “Bagi kami, campuran karbon yang idel adalah 10 persen,” ucapnya.

Kekuatan daya tekan batu bata tahan gempa ini sudah pernah diuji di Laboratorium Beton dan Bahan Bangunan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Rekan satu tim Nina sewaktu SMU dulu, Christina Kartini, menambahkan, batu bata tahan gempa ini tak hanya lebih kuat, biaya produksinya diklaim lebih hemat dan menguntungkan dibanding batu bata biasa atau tanpa campuran karbon. Dalam hitungan mereka, biaya produksi 1.000 batang batu bata tahan gempa Rp 160 ribu, sedangkan biaya produksi 1.000 batang batu bata konvensional Rp 172 ribu. “Harga jualnya sama, Rp 350 ribu per 1.000 batang,” ujarnya.

Dengan biaya produksi yang lebih murah dan harga jual yang sama, maka keuntungannya lebih besar. Dengan asumsi biaya produksi Rp 160 ribu dan harga jual batu bata di Madiun Rp 350 ribu per 1.000 batang, pembuatnya akan mendapatkan laba Rp 190 ribu. Sedangkan laba dari batu bata biasa lebih kecil, yakni Rp 178 ribu. “Ada selisih laba Rp 12 ribu,” tuturnya.

Penelitian dua siswa ini dibukukan dalam karya tulis ilmiah dan memenangkan salah satu medali emas Olimpiade pelajar tingkat dunia di bidang lingkungan, yakni International Environmental Project Olympiad (Inepo) di Turki tahun 2010. Karya ilmiah mereka berjudul “The Use of Sugar Factory Dust in Making Seismic Resistant Bricks atau Kegunaan Limbah Abu (Dust) Asap Pabrik Gula dalam Membuat Batu Bata Tahan Getaran (Gempa)”.

Guru pembina fisika SMA Negeri 5 Kota Madiun, Imam Zuhri, mengatakan, pihaknya sangat terbuka jika ada perajin batu bata yang memanfaatkan formula batu bata tahan gempa. “Penelitian anak-anak ini tidak ditujukan untuk komersial, yang penting bisa bermanfaat bagi masyarakat,” ucapnya.

Menurut dia, sejak ditemukan formula komposisi campuran karbon dalam pembuatan batu bata, sejumlah perajin di Madiun dan sekitarnya mulai menggunakannya. “Kami senang karena sudah banyak perajin batu bata yang memanfaatkan hasil penelitian anak-anak,” ujarnya.

Sumber: TEMPO

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s